SUISEKI SENI KEINDAHAN BATU ALAM


Goresan keindahan alam yang terpancar pada  Suiseki, bukan hanya member keindahan dunia pandang, tapi juga menggugah relung kesadaran batin manusia terdalam. Sebuah hoby yang memberi kepuasan, kedamaian dan ketenangan jiwa.
Batu – batu alam berformat kecil itu berdiri kokoh menawarkan sejumlah imajinasi nan luas. Memancarkan getar – getar inovatif baru yang mengesankan. Bagai lukisan multi dimensi atau sebuah orchestra tanpa lagu. Setiap batu menampilkan dunianya tersendiri, yang jika diamati merupakan cermin keserasian antara suara batin manusia dengan alam semesta. Itulah Suiseki.
Suiseki adalah padanan dari dua suku kata Jepang, Sui ( Air ) dan Seki ( Batu ). Secara harfiah berarti “ Batu Air “. Namun dalam artian luas, batuan yang ternentuk secara alamiah malalui proses alam, seperti kikisan air sungai atau ganasnya gelombang lautan yang berlangsung selama ratusan tahun. Dari proses “ Penderitaan Panjang “ ini lahir sosok batu unik yang memiliki nilan seni artistic tinggi, tanpa sentuhan tangan manusia, mengandung keindahan dan irama kelembutan dalam bentuk dan kekuatannya.
Kecintaan akan Suiseki diilhami oleh kegemaran mengumpulkan benda – benda alam tanpa merusak lingkungannya, yang kemudian disajikan secara khusus sebagai miniature keindahan yang alami, sehingga mampu menggerakkan hati nurani manusia, mampu mengimbangi kehidupan modern serta memperkaya rasa cinta terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta alam semesta.

BERMULA    DI   CINA
Seni batu indah ini bermula dari Negeri Cina sejak sekitar 3000 tahun yang  lalu. Dalam tulisan berjudul “ The Source Develipment and Tendency of Chinese Appreciaton Stone Culture “, Zhao Yuode Liou Cou pengamat seni dari Cina menjelaskan, alkisah ada seorang bangsawan negeri Zhou ( kini provensi Shanxi, Cina ) menemukan sepotong batu indah yang tercipta dari kekuatan alam selama ratusan tahun. Karena percaya bahwa batu itu merupakan benda yang sangat bernilai, mak batu tersebut di simpan dengan baik.  Tamu – tamu yang  berkunjung ke rumahnya mengamati dan  mengagumi batu tersebut. Pada awal Dinasti Zhou abad ke -10 Sebelum Masehi, kaum bangsawan di masa itu mulai memiliki kegemaran terhadap seni batu tersebut.
Dalam perjalanannya, seni tersebut telah berkembang di Asia Timur, seperti Semenanjung Korea, jepang , dan Taiwan, bahkan kini berkembang luas hingga ke Tanah Air Indonesia sebagai negara kepulauan dengan iklim tropis, memiliki potensi yang besar untuk Suiseki. Terlebih lagi, karena memiliki banyak rangkaian gunung berapi, sehingga tanahnya kaya akan mineral dan batu- batuan alami yang unik dan langka serta telah berumur ratusan tahun.


PESONA   IMAJINASI
Menurut pakar Suiseki, Ohuchi  Kiyokazu, dari Kyoto University , Jepang, ada empat factor terpenting dalam penilaian Suiseki yaitu, warna ( Iro ), bentuk ( Kataci ), mutu ( Shitsu ) dan keagungan ( Kihin ). Dengan meletakkan Suiseki pada suatu tatakan yang serasi kita dapat mengamati berbagai lekukan, cekungan , dan guratan yang ada pada batu tersebut. Dari hasil pengamatan yang berlangsung terus menerus lama kelamaan timbul berbagai ,acam imajinasi. Ada yang berkesimpulan seakan – akan memandang gunung, lembah, ngarai, air terjun dan danau alami. Sebagian ada yang berbentuk gua, hewan, pohon dan sebagainya.
Getar artistk  yang dipancarkannya itu mampu membawa kita pada atmosfir keindahan, ketenangan dan kedamaian. Kita pun menjadi kagum akan kebesaran Sang Pencipta. Terlebih lagi, dalam dunia modern, saat ini manusia terbenam arus kehidupan yang cepat dan rumit sehingga cenderung melupakan pentingnya aspek batiniah. Sueseki tidak bersuara, tetepi dapat berkomunikasi dan berekspresi, melalui sosok artistic dalam keindahan alami, yang mampu menggerakkan hati dan kepekaan rasa manusia serta member keharmonisan yang  mendalam dengan kehidupan alam.*

TIPS  BAGI  PEMULA
  1. Suiseki adalah sebuah kegemaran yang membutuhkan kepekaan rasa – Anda dapat menemukan batu – batu cantik dan unik ini dengan penuh kesabaran dan kepekaan di alam bebas.
  2. Gunakan fantasi dan imajinasi Anda begitu mendapatkan sebuah batu yang menarik dengan menelaahnya dari segenap sudut pandang.
  3. Kembangkan fantasi itu sacara luas, tentukan tema yang Anda pikir paling sesuai lalu buatlah sketsa dasar.
  4. Tempatkan batu pilihan itu secara cermat pada sebuah komposisi yang menawan. Kemudian sertakan elemen alami lainnya untuk memperkuat tampilannya.
  5. Upayakan untuk menelaah citra filosofi yang kira – kira dapat terwakili oleh komposisi alam miniature tersebut.
  6. Gunakan referensi dari para maestro Suiseki – karya – karya mereka dapat mudah dicari di internet.
  7. Perkaya wawasan dan jaringan dengan bergabung dalam wadah pecinta batu suiseki.

Reaksi: